Senin, 27 April 2015

Rekayasa Nilai



REKAYASA NILAI

Apakah sebenarnya maksud Rekayasa Nilai itu? Dari beberapa definisi dari Rekayasa Nilai (Value Engineering) yakni merupakan teknik perancangan sistem yang sistematis dengan menggunakan teknik-teknik untuk mengidentifikasi fungsi - fungsi yang diperlukan, menerapkan nilai-nilai dan mengembangkan alternatif-alternatif sehingga tercapai keseimbangan fungsional terbaik antara biaya keadaan dan performansi dari suatu sistem atau produk. Atau dengan kata lain Rekayasa Nilai merupakan suatu susunan metode untuk mengurangi biaya produksi atau penggunaan barang dan jasa, tanpa mengurangi mutu yang diperlukan atau performa ( Performance ).              

   
                                               


 









Menurut Society of American Value Engineering, Rekayasa Nilai merupakan Suatu teknik yang diterapkan secara sistematis untuk menentukan fungsi suatu produk atau jasa, menentukan nilai moneter dari fungsi tersebut serta memenuhinya dengan biaya total minimum. Ada beberapa karakteristik  Value Engineering menurut(Zimerman, L.W and Hart, 1982) sebagai berikut:
a.       Berorientasi fungsi, perancangan dimulai dengan identifikasi fungsi-¬fungsi yang dibutuhkan.
b. Pendekatan sistematis, perancangan harus dilakukan dengan mempertimbangkan seluruh dimensi permasalahan.
c. Multi disiplin, perancangan melibatkan berbagai keahlian.
d. Berorientasi pada siklus hidup produk, analisa mencakup keseluruhan siklus hidup produk.
e. Pola pikir kreatif, proses perancangan harus dapat mengidentifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah kreatif.
Ukuran nilai ditentukan oleh fungsi atau kegunaannya, sedangkan harga atau biaya ditentukan oleh substansi barangnya atau harga komponen-komponen yang membentuk barang tersebut. Ukuran nilai condong ke arah subjektif, sedangkan biaya tergantung kepada angka (monetary value) pengeluaran yang telah dilakukan untuk mewujudkan barang tersebut
Sedangkan Prinsip dasar Rekayasa Nilai,pada dasarnya suatu produk dirancang dengan tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan dan memberi kepuasan kepada konsumen pemakai produk tersebut. Atribut yang terdapat pada produk yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dan memuaskan konsumen pemakainya dinamakan fungsi (value) sering terjadi, para perancang produk menciptakan fungsi-fungsi pada produk secara berlebihan sehingga adanya fungsi-fungsi yang tidak/kurang dibutuhkan ini berakibat timbulnya biaya tambahan yang tidak dikehendaki. Value dapat dinyatakan dengan memperbandingkan performansi dengan biaya,dengan rumus yakni:
VALUE = (performasi/biaya)
Persamaaan ini juga menggambarkan perbedaan mendasar antara rekayasa nilai dan penurunan ongkos (cost reduction) biasa, yaitu bahwa menaikkan nilai tidak harus menurunkan ongkos. Nilai dapat juga dinaikkan dengan peningkatan performansi. Jadi rekayasa nilai kemungkinan tidak mengusahakan penurunan ongkos, tetapi perbaikan dalam performansi yang menyebabkan kenaikan harga nilai.
Nilai dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan fungsi atau faedah dengan tidak menambah biaya. Serta mengurangi biaya dengan mempertahankan fungsi atau faedah.
Analisis biaya untuk rekayasa nilai juga diperlukan untuk tolak ukur atau pembanding guna mengukur faktafakta yang telah terkumpul pada tahap informasi. Pentingnya analisis biaya bertambah karena rekayasa nilai bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fungsi yang sesungguhnya terhadap biaya yang diperlukan dan memberikan cara pengambilan keputusan mengenai usaha-usaha yang diperlukan selanjutnya.
Tujuan dari Rekayasa Nilai untuk memperpanjang penggunaan sumber daya, orang,waktu, biaya dan material,menciptakan perubahan dengan sengaja,membentuk ketrampilan baru pada individu.
Dalam implementasi Rencana Kerja Rekayasa Nilai ada beberapa tahapan yakni:
  1. Tahap Informasi, tahap informasi dari proses rekayasa nilai meliputi merumuskan masalah, mengumpulkan fakta, mengenal objek (produk) dengan mengkaji fungsi, dan mencatat biaya.
  2. Tahap spekulasi, pada tahap ini kemungkinan lain dianalisis dengan menanyakan apakah ada alternatif lain yang dapat memenuhi fungsi atau kegunaan yang sama.
  3. Tahap Analisis, di sini penyaringan dan kombinasi antara keperluan proses produksi, pemasaran, dan fungsi mengalami kristalisasi, artinya yang pada tahap sebelumnya baru berupa ide kini meningkat ke pemecahan secara kongkrit.
  4. Tahap pengembangan, pada tahap ini alternatif-alternatif yang terpilih dari tahap sebelumnya dibuat program pengembangannya sampai menjadi usulan yang lengkap.
  5. Tahap penyajian dan program tindak lanjut, ini adalah tahap akhir proses rekayasa nilai, yang terdiri dari persiapan dan penyajian kesimpulan hasil rekayasa nilai kepada yang berkepentingan.
Dalam rekayasa nilai, yang diperhitungkan hanya nilai ekonomisnya saja yaitu meliputi Nilai Guna, Nilai Prestise, Nilai tukar, dan Nilai biaya. Dan pada dasarnya Rekayasa Nilai dilakukan secara sadar dan merupakan penerapan secara sistematik dari sekumpulan teknik yang mengidentifikasikan fungsi yang dibutuhkan, penetapan nilai untuk fungsi tersebut, dan mengembangkan alternati - ¬alternatif yang dapat melakukan fungsi dengan ongkos minimum.



SUMBER:
jurnalsmartek.files.wordpress.com2012041_mastura-labombang-so-edit-agst_2007
eprints.upnjatim.ac.id/1313/1/TS-ANNA_R_42

Selasa, 11 Maret 2014

Helm untuk 'mencegah gegar otak'

Helm untuk 'mencegah gegar otak'

Terbaru  4 Maret 2013 - 15:24 WIB
Linus Nara Pradhana
Linus Nara Pradhana dalam lomba Indonesian Science Olympiad dengan helm impact.
Seorang siswa SMP mengembangkan helm untuk mencegah gegar otak dengan menggunakan sistem pendingin pada bantalan helm.
Linus Nara Pradhana, siswa kelas dua SMP di Surabaya mengatakan dari penelitian yang ia lakukan, helm ini secara otomatis mengeluarkan suhu dingin saat terjadi benturan.

Namun serbuk kimia yang menjadi bahan pendingin ini masih rahasia, kata Nara, karena akan dipatenkan terlebih dahulu."Dengan menggunakan serbuk kimia, helm ini akan secara otomatis mengeluarkan suhu dingin sampai 11,5 drajat Celcius dan berfungsi sebagai pengompres kepala,” kata Nara dengan karya yang mengantarnya menjadi finalisIndonesian Science Project Olympiad akhir Februari lalu
Campuran bahan kimia ini diletakkan di bantalan pelindung helm.
"Waktu terjadi benturan bantalan langsung dingin dan dapat digunakan untuk mengompres kepala agar jangan sampai suhu naik," kata siswa kelas dua SMP di Surabaya ini.
"Saya menggunakan energi kinetik untuk menghitung kekuatan benturan," tambahnya.
Helm untuk mencegah gegar otak ini merupakan karya terbaru Nara menyusul helm berpelapis gel yang mengantarnya mendapatkan medali emas dalam lomba inventor muda internasional di Thailand tahun lalu.

Kenyamanan dan keselamatan

"Dengan menggunakan serbuk kimia, helm ini akan secara otomatis mengeluarkan suhu dingin sampai 11,5 drajat Celcius dan berfungsi sebagai pengompres kepala"
Nara
"Riset untuk helm berpendingin ini sejak saya kelas 5 SD, jadi sekitar empat tahun dari nol sampai sekarang siap diproduksi dan dipasarkan."
Helm berpendingin saat ini tengah diproduksi oleh satu perusahaan helm di Surabaya dan mulai dipasarkan bulan April mendatang.
Helm untuk gel coated, pengalaman pribadi karena tiap hari pulang pergi sekolah di antar motor. Pulang seolah jam satu macet, panasnya bias dibayangkan bagaimana. Dari situ nara kepikiran, buat helm dengan pendingin.
Nursita Lestarini, manajer operasional dari perusahaan Sentral Bahana Ekatama, Surabaya yang tengah memproduksi helm ini mengatakan mereka memilih helm Nara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Kami melhat karya anak bangsa, Nara ini inovatif untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat...Apalagi terkadang suhu udara bisa sampai 40 drajat pada musim kemarau," kata Nursita.
"Kami pernah melakukan uji coba di jalan. Pada saat itu musim kemarau, suhu tertinggi saat itu 43 drajat Celsius. Saat itu suhu di dalam helm sekita 35 drajat, jadi ada penurunan sekitar delapan drajat Celsius, dan ini cukup signifikan."
Pelapis gel yang digunakan ini menggunakan sodium polyarcylate bahan yang digunakan pada popok bayi.
Nara mengatakan gel yang digunakan dalam pelapis helm ini nantinya dapat diisi ulang.
"Kalau masalah waktu saya hanya mengerjakan proyek ini saat waktu senggang atu saat jadi liburan jadi tidak mengganggu jadwal sekolah," kata Nara.
"Kedepannya, saya masih ingin menciptakan hal- hal baru yang dapat meringankan pekerjaan orang lain karena itu memang adalah tujuan setiap inventor yaitu dapat menciptakan alat yang dapat membantu tugas orang lain dan dirinya sendiri."